“Sejak kau hilang, aku tak tahu lagi harapan seperti apa, yang harus kupegang.”
●
Aku adalah puisi yang tak hendak kau baca. Meski lembar demi lembar, sudah terbuka di depan matamu dengan lebar.
Aku adalah rumah yang tak hendak kau huni. Meski saat kau hendak membelinya, kau mengerahkan segala macam cara, usaha, dan kerja.
Aku adalah peluk yang kau lupa hangatnya. Meski dulu kau pernah mengaku, tak akan jatuh di peluk yang lain, selain milikku.
Aku adalah ruang yang kau anggap usang. Yang tak hendak kau gunakan, apalagi kau bersihkan. Padahal dulu, kau sempat menjanjikan di sana akan selalu ada keceriaan.
Aku adalah waktu yang kau sesali pernah kau lewati dan jalani. Yang barangkali, tak hendak lagi kau ulangi.
●
Aku adalah masa kini yang sendiri. Yang sejak semuanya berlalu, sudah tak tahu lagi, apakah dahulu sedang bermimpi atau sedang dikibuli.
●
© Tia Setiawati | Tangerang, 10 Mei 2017
via Tumblr http://ift.tt/2r0fjvf
0 komentar:
Posting Komentar