“Ihdinash shirathal mustaqim, shirathal ladzina an'amta'alaihim.. (Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya).
Permintaan seorang hamba kepada hidayah sama seperti kebututuhan kita kepada udara untuk bernapas. Ketika seorang hamba jauh dari hidayah, niscaya kesengsaraan akan menimpanya.
Pernah tidak, saat memutuskan untuk mengakhiri segalanya karena-Nya. Kita dihadapkan dengan berbagai macam bentuk ujian, ujian perasaan misalnya.
“aku sudah lama gak ada kabar tentang si dia semenjak ia pergi memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya. Tiba-tiba saja kini ia datang lagi dalam kehidupanku. Bertanya beberapa hal kepadaku. Entah kenapa rasanya begitu menyesakkan? Padahal aku sudah melepaskan perasaan itu dan memilih berjalan menuju-Nya.” Pesan seorang kawan beberapa waktu lalu.
Bukan hijrah namanya jika ia dilalui dengan baik-baik saja. Bahkan sekelas iman para nabi sekalipun tetap melalui proses yang panjang dan penuh kesulitan.
Itulah mengapa doa Nabi Shallallahu'alaihiwasallam terkait diri beliau, “Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri (untuk mengurusnya), sekejap pun.”
Sebab seberapa keraspun kita berupaya, tetap Allah jualah tempat berbolak-baliknya suatu hati.
Meminta kebaikan kepada-Nya..
Meminta ketetapan yang baik dari-Nya. Merupakan upaya diri, agar kelak kita sama-sama menyadari bahwasannya hati manusia itu lemah. Lemah sekali.
Dan satu-satunya menepis perasaan semu adalah mengembalikann semuanya pada Allah. Dzat yang menggenggam segala perasaan.
Pada bagian ini kita akan memahami, perihal cinta, ujian ataupun harapan. Mengembalikan pada hakikat semulanya adalah solusi terbaik ketika kita menyadari bahwa apa yang kita rasa adalah salah.
Setelah ini, jadikanlah harapan tersebut laksana matahari, jika ia terbenam, kita yakin bahwa esok hari ia akan datang kembali.
Seluruh makhluk membutuhkannya, tetapi mereka tidak menangis ketika matahari tenggelam dan pergi menghilang. Sebab mereka yakin bahwa esok matahari akan kembali.
Maka sebesar itu pula seharusnya harapan kita untuk terus dan terus meminta kebaikan, meminta hidayah dengan sungguh-sungguh. Agar kelak, ketika ujian-ujian yang lainnya hadir menyapa. Allah sendirilah yang akan menyelesaikan semuanya. Tersebab ketergantungan kita penuh kepada-Nya.
((Self Reminder - Ibn Syams))
Game saja berlevel, karenanya jika merasa cobaan semakin berat, ga menyangka jika <reward> nya saja gaterduga di dunya, apalagi diakhirat. Seperti yang pernah aku dengar dari sahabat -akan ada saatnya seorang mukmim terkaget menemui amalannya diakhirat yang menumpuk banyak tanpa ia sadar sudah melakukannya, ketika ia bertanya Allah SWT menjawab -itulah amalanmu yang berasal dari doa-doa mu yang tak kuberi jadi-
Slapping myself - Thankyou @quraners
via Tumblr http://ift.tt/2lVCc14


