Dizzy, tizzy, fuzzy, wanna vomit. Shit
via Tumblr http://ift.tt/2bT0bfX
Dizzy, tizzy, fuzzy, wanna vomit. Shit
Baru kali ini aku berhasil menutup pintu rumah, dan baru kali ini pula aku tahu ternyata mempertahankan nya untuk terus terkunci lebih sulit.
Bagaimana jika kita berada di satu kota yang sama?
Akankah temu akan selalu tercipta meski katanya rutinitas kerap memenjarakan kita?Bagaimana jika saat mengenal dulu masing-masing kita hadir bukan untuk menjadi teman?
Akankah masih ada kisah yang masing-masing kita saling percayakan?Bagaimana jika kita tidak terburu-buru melabeli satu sama lain adalah seseorang yang paling mengerti?
Akankah kita tetap sesekali hadir meski sudah lama menghilang?Lalu, bagaimana jika kita bukanlah kita yang saat ini?
Akankah sederet pertanyaan bagaimana jika masih menghantui sudut-sudut kepala?Hujan Mimpi
Di Langit Akhir Agustus
Malam ini rembulan begitu lembut menerangi malamku, begitupun teduh senyum kecilmu.
Visual itu tidak jelas nyatanya, tapi kuat pengaruhnya dashyat.
Rupamu, menerawang kenyataan, wangimu melebat tinggi, menyegarkan imanjinasi.
Aku membayangkan kau berbalutkan keindahan, jangankan disini, didalam benakku pun kau tetap segalanya.
Memeluk ketidaknyataan aku tak mau mengaku, bagai rembulan tak berbayang, kau benar benar nyata bagi mimpiku.
Kenyataan jika matahari tidak menerima waktunya dia tenggelam, membuatku berirama, menari bahagia.
Ternyata setelah kubuang jauh kecewa, betapa bayangmu saja sudah membuatku melayang.
Mungkin sudah seharusnya aku melompati keraguan. Atau pergi ke sebrang utopia.
Kau, menahannya, jika rupamu memang harus tetap berevolusi, maka bayangmu tak masalah jika harus tetap menepi.
Bagai bulan tak berbayang, kau, benar benar buatku tak mau jadi planet lain di galaksi ini.
Ps. Malam ini tak ada bulan
Aug, 29 16
I wish I was better at dealing with stressful situations.
If I’m stressed or going through a hard time, I literally shut off everyone. I don’t want to see people. I don’t want to talk to people. Especially people who are so near and dear to me.
It may not make sense to others, but this is how I handle my hardships and I wish I could change that.
No, it’s not that I don’t care. I know a lot of people handle hard times by being around good friends. But for me, being with them and having a good time as always just makes me forget what I have to deal with later on. It makes it feel like everything is normal and ok when it’s not. And I hate pretending.
It’s so stupid. But it’s me. I’m working on it. I want to show the people I love that I care, I just can’t.
Im crying
I open the door, sound of the morning breeze i hear, and its the same air that you breathed in
Im weeping
Closing the door, thought of you take hold of me, wanting to go there, wherever you are, to the one care.
Moments of remembrance, still flash through my head, i mustve waiting tooo long.
Kiss isnt kiss, hug isnt hug, when two hearts are far apart.
Im grieving,
The touch of you love, how can i live without ur love, and from this day on, give me a reason why we should be apart.
Im crying,
I walk out the door, hoping your heart next to mine.
I mist be dreaming, or am i just imaging our love.
It has to be you.
Yes, it was you that i longed for…why
Suatu nama memang tidak pernah berarti apa apa. Tapi terkadang memaknai sebuah perjalanan, mengundang rasa yang memenjarakan jiwa. Suatu penggalan kata yang memanggil manggil makna, menandai seseorang.
Di minggu siang yg penuh bergemiricik hujan, aku menemukan lagi satu kata kunci yg dapat memanggil dirimu kembali di hatiku. Memang hanya sebuah nama, tapi kenangan yg menyeruak di belakng nya memenuhi minggu siang penuh rintikan hujan.
Aku termenung terbuai rindu, rindu yg membuat hujan ini serasa tidak akan berhenti, dan membuat aku terhayut dari siang ke suatu sore di minggu berwarna rintik rintik hujan.
Memang hanya sebuah nama, tapi kedua pemiliknya sangat aku suka.
Kata kata mereka sama sama menghanyutkan, sama sama membuat nafas samar samar lebih berharga, sama sama membuat aku melompat kegirangan dan tidak jarang berakhir dengan gulungan ombak yg membawa ku tenggelam, tenggelam dalam kenangan.
Perhaps, inspired by Wolf Acrostic.
Somewhere theres someone
Who dreams of ur smile, and finds in ur presences that life is worth while.
Just now im lonely, but bravely i remembers something that everybodys says true, theres somebody in somewhere is thinking, dreams and try to reach me. Perhaps.
Revisi berkali kali nonton video buffering
Biasa
Repot administrasi anak anak nakal
Biasa
Mie instan tengah malam
Biasa
Tanpamu
Seperti biasa
Inspired by : Theorisia Rumthe (perempuansore)
Sekarang aku tahu, juntaian rindu yg tergambar jelas dalam langit malam hanyalah seperti gambaran awan yg abstrak bagimu
Sekarang aku mengerti, semuanya jadi tidak peduli, asap bahkan angin kau tidak tahu, apalagi mencium.
Satu atau berkali kali lagi aku tidak mau. Kau melihat mentari, tapi tak merasakan sinarnya, muak dengan kehidupan, merasa mual dengan jalan yang begitu panjang.
Lengkungan dalam otakmu sungguh tak berarti banyak.
Atau mungkin hanya aku saja yg terus berselimutkan ekspektasi megah.
i’ve started dressing adam in lots of linen, too! i hope @black_crane keeps making kids clothes, it’s so hard to find good stuff for little boys. http://ift.tt/2boxLJ2
Ingin rasanya hati berkelana. Menginjak tanah bebatuan berlumutan.
Ingin rasanya hatiku teriak, tanganku berkejaran, pikirku melayang, padamu yg mungkin kini sudah ditelan kebisingan, dihujani banyaknya perhatian. Tapi hati ini tidak bisa ditawar, pikirnya memenjarakan keinginan adalah yg terbaik, nyatanya memang itu yg paling baik, apalagi bagiku yg satu sentipun tak baik lagi untuk ingin itu.
Ludah sudah tertelan, tapi manis kemudian, mengapa tangan dan ingin yg sudah kutarik, bersambut dengan senyum mu?. Sapamu yg sudah pudar, kembali menghangat meski sebentar sebentar. Nestapa yg dulu mengekang kini berhenti menghilang. Kau menari lagi, berputar jauh dlm memori.
Jika sendu semudah itu dtg dan pergi, mengapa aku yg jadi tempatmu tinggal sementara waktu? Mengapa tidak sekalian saja tidak bertemu? Kalau memang hanya berkunjung?.
Cinta setelah mencinta, disitu aku ragu. Mungkin kau memang hanya sedang berkunjung lagi, tapi pemilik rumah ini bahkan sudah menyiapkan kamar untuk si tamu. Mungkin memang hanya sapaan, tapi usaha mengekang keinginan sepertinya musnah sudah.
Kau yg bebas pergi kemana saja, aku bertanya tanya, kemana sebenarnya kakimu ingin melangkah? Dan kemanapula penjara yg dulu selalu menampar benakku jika ingin meraih sapaan itu kembali?
Aku iri, kau memang mudah berkelit hati, tak payah jika ingin mencinta lagi, kemana kakimu melangkah tak perlu kau meragu lagi.
Tapi hati ini, jangankan membuka pintu, halamanku penuh ragu dan sendu.
Oh please take this shaking from me
Adorable Photos of Newborn Animals in Wildlife Rehab Centers by Traer Scott
Rainbow Lattice Sunstone from Mud Tank in the Northern Territory, Australia
How brilliant wow
Sekali lagi aku terjebak di rak yang sama.
Salah satu alasan baca buku yang aneh, bukan karena Italo svevonya, atau latar belakang ceritanya.
Bukan juga karena covernya.
Dibuku ini serasa aku membuka halaman buku harian yang tertulis rapi mungkin sekitar satu tahun yang lalu Aku tutup.
Yang jika kau buka tiap halamannya, mungkin tidak ada satu katapun yang seibu dengan buku harian itu.
Tiap lembarnya entah kenapa mengingatkan pada masa lalu, dan harumnya selalu membangunkan memoar, Lalu? Mengapa setiap aku kemari, hanya buku ini yang aku tuju?
Duh ga pernah belajar =_=
Dititik inikah aku harus kembali membuka tutup kotak yg sudah tenggelam di dasar gelombang? Apakah saat inilah aku jangan lagi terpaku pada sunyinya bisikan didalam kamar, kamar yang dulu semarak, beralunkan wewangian, dan segarnya remah remah cerita. Mungkin disinilah waktunya aku mulai percaya? Jika ketukan yang terdengar dibalik hati, adalah suatu kebenaran.
Oleg Oprisco’s Portraiture of Contemporary Surrealism
Art history has the reputation to rebuke aesthetics that does not comply to its tradition, as well as the irony of welcoming them. Ukrainian fine art photographer Oleg Oprisco upstages the classicism with a more contemporary, liberating, outré twist.
It’s just that I’ve finally realised that I can’t do anything about it.
So yes, I still care.
But this time, I’m being smart about it.
Instead of stressing, over thinking, worrying, making up scenarios of what could possibly happen in my head, I’m just leaving it up to Allaah swt.
I’ve done what I can, and the rest is up to Him.
Whining about it, being upset over it, all of that will not benefit me or the situation. So why waste my time? Why waste precious time, effort, and even thoughts for something I have no control over?
And you know what? It feels so good to know that Allaah will take care of things for me.
Imagine if we had complete will power and everything was in our hands, with no help from Allaah swt.
Imagine a world like that. Where we had to do everything on our own. If things didn’t work out, that sucks. It was our choice.
Instead, Allaah swt tells us to do what we can, and then leave the rest to Him. He will take care of us.
He’s taking care of all of us. All our wants, needs, everything.
Alhamdulilaah.
Boy is this relevant again.
Everyone’s just care and worry about themselves.
Ketika rembulan kembali menepi, langit ini berbincang sepi, bertanya berbisik di hati, menjauhi. Aku berada ditengah padang dimana disinilah aku mulai membangun segalanya setelah malam tidak kembali datang. Pasirku kini sudah semakin keras dan menempel erat pada tanahnya. Banyaknya getaran sepertinya tidakkan membuatnya tumpah atau berseliweran. Tahukan jika kau sekarang malah meniupnya hanya dengan satu hembusan?