Ingin rasanya hati berkelana. Menginjak tanah bebatuan berlumutan.
Ingin rasanya hatiku teriak, tanganku berkejaran, pikirku melayang, padamu yg mungkin kini sudah ditelan kebisingan, dihujani banyaknya perhatian. Tapi hati ini tidak bisa ditawar, pikirnya memenjarakan keinginan adalah yg terbaik, nyatanya memang itu yg paling baik, apalagi bagiku yg satu sentipun tak baik lagi untuk ingin itu.
Ludah sudah tertelan, tapi manis kemudian, mengapa tangan dan ingin yg sudah kutarik, bersambut dengan senyum mu?. Sapamu yg sudah pudar, kembali menghangat meski sebentar sebentar. Nestapa yg dulu mengekang kini berhenti menghilang. Kau menari lagi, berputar jauh dlm memori.
Jika sendu semudah itu dtg dan pergi, mengapa aku yg jadi tempatmu tinggal sementara waktu? Mengapa tidak sekalian saja tidak bertemu? Kalau memang hanya berkunjung?.
Cinta setelah mencinta, disitu aku ragu. Mungkin kau memang hanya sedang berkunjung lagi, tapi pemilik rumah ini bahkan sudah menyiapkan kamar untuk si tamu. Mungkin memang hanya sapaan, tapi usaha mengekang keinginan sepertinya musnah sudah.
Kau yg bebas pergi kemana saja, aku bertanya tanya, kemana sebenarnya kakimu ingin melangkah? Dan kemanapula penjara yg dulu selalu menampar benakku jika ingin meraih sapaan itu kembali?
Aku iri, kau memang mudah berkelit hati, tak payah jika ingin mencinta lagi, kemana kakimu melangkah tak perlu kau meragu lagi.
Tapi hati ini, jangankan membuka pintu, halamanku penuh ragu dan sendu.
via Tumblr http://ift.tt/2b0cXag
0 komentar:
Posting Komentar